Sunday, May 1, 2016

Menuntut Kesetaraan Tapi Minta Diistimewakan

Pernah pada masa lampau saya sedikit belajar kesetaraan gender dan gerakan feminisme. Gempita masa belia membayangkan indahnya kesetaraan-kesempatan yang sama dalam berkiprah laki-perempuan. Bersama kawan-kawan perempuan merasa berbangga bisa mengadakan acara seminar tanpa bantuan kawan lelaki. Bergerombol kawan perempuan nonton bareng di bioskop, film Memoar of A Geisha. Diskusi dengan kawan-kawan perempuan sambil ngopi di warung kopi emperan sampai larut malam. Pulang ngopi boncengan bertiga perempuan semua, masuk kosan jalan mindik-mindik takut ketahuan bu kos. Terkadang pas nginep di kontrakan kawan perempuan, kami nyoba ngisep rokok. Begitu sudah rasa merdeka! Wis ngeroso sangarrrr!!!
Labibsyauqi.blogspot.com



Itu masa indah takkan terlupa. Tentang titik awal sebuah cita-cita penghidupan saya.

Maka kemudian saya jarang betah kerja kantoran. Pernah kerja di kantor sebagai staf manajer keuangan di sebuah LSM, bertahan hanya sebulan. Saya resign dan melamar jadi wartawan newlestter, gajinya jauh lebih kecil, sepertiganya. Tapi saya bahagia dan merdeka, ndak harus bikin laporan keuangan dengan nota-nota palsu dari koleksi stempel di laci meja kerja.

Kemudian saya menikmati pekerjaan selanjutnya, yang menurut saya kesempatan besar untuk menunaikan cita-cita gerakan feminisme saya. Kerja sebagai pendamping PSK beberapa lokalisasi di Kabupaten Malang. Pekerjaan ini menyenangkan sekali. Saya hanya datang ke lokalisasi menemui mbak-mbak pekerja seks. Ngobrol ngalor ngidul mengakrabkan diri sambil ngopi dan makan gorengan. Hingga tahun kedua saya ditugaskan menjadi pendamping pelanggan untuk edukasi hubungan seks yang aman sebagai pencegahan HIV. Jalan sebulan, saya merasa kurang nyaman kalau harus nyamperin om-om di titik kumpul mereka. Saya pun memutuskan resign.

Hari-hari berlalu, hingga saya akhirnya betah kerja di kantor, hampir setahun kerja saya sudah hamil dari pernikahan saya. Hamilnya saya ini rewel banget sampe saya tidak kuat menyelesaikan kontrak kerja selama setahun. Saya berhenti pada bulan November, padahal sebulan lagi harusnya kontrak kerja selesai dan saya bisa dapat bonus akhir tahun.

Dan di sinilah saya, sebagai ibu rumah tangga yang tidak bekerja di luar rumah. Sama sekali saya tidak merasa iri dengan teman-teman perempuan yang hebatnya bisa bekerja di kantor. Menjadi supermom yang bisa menanggung dua beban pekerjaan. Justru saya mengakui dengan kesungguhan akan kehebatan mereka. Sudah lama berada di zona nyaman ini membuat saya makin enggan bekerja di luar rumah. Konsekuensinya saya terima dengan lapang dada. Bahwa saya belum bisa berdikari dalam hal keuangan. Sepenuhnya saya tergantung pada suami. Pengen beli apa-apa juga yang ada saya mati-matian ngempet. Itu tidak masalah bagi saya, secara sadar saya menerima. Sudah menjadi keyakinan pribadi saya pantang meminta jika tidak ditawari suami. Solihah beud kan ya,... tapi tekanan batin hahahaha....

Tapi semua saya kembalikan pada hasil kontemplasi saya mengenai pilihan terbaik bagi saya dan keluarga. Sebaiknya bekerja atau tidak. Karena suami kerjanya penempatan pindah-pindah, dan idealnya sebuah keluarga adalah selalu bersama, maka pilihan realistisnya saya tidak perlu bekerja di luar rumah.

Kini perjuangan perempuan telah sampailah ke depan pintu gerbang kemerdekaan. Di mana kita lihat dan rasakan banyaknya fasilitas publik dan fasilitas kerja yang ramah ibu hamil, ibu, dan anak. Ruang laktasi dan pengasuhan tersedia di tempat kerja khususnya kantor pemerintah. Memudahkan perempuan bekerja dengan nyaman tanpa meninggalkan buah hati mereka.
Quizsocial.com
Maka nikmat fasilitas kerja mana yang kau dustakan? Bahwa bekerja dengan banyak kemudahan dan pemakluman akan tanggung jawab utama sebagi ibu yang bekerja. Family first adalah koentji. Namun, di antara banyaknya kemudahan dan pemakluman itu.... Lucunya, banyak perempuan bekerja justru bergembira ketika ada berita dari web abal-abal tentang bonus cuti dan pengurangan jam kerja.

Saya sungguh terbelalak kecewa. Sekali lagi bukan saya iri dengan kabar gembira ini (meski masih abal-abal), saya ingin nunjuk mereka dan berkat "SHAME ON YOU". Kalian sebenarnya mau bekerja atau tidak? Suka bekerja atau tidak? Ikhlas merelakan waktu bersama buah hati demi bekerja atau tidak? Kok ndak sungkan kepada pendahulu yang sudah memperjuangkan kesempatan yang setara. Saat kesempatan itu telah nyata dan mudah, kalian malah mempermainkan kesempatan dengan merengek-rengek minta dimaklumi karena "kami perempuan, kami seorang ibu, kami seorang istri, harap maklum dong, kami harus lebih banyak waktu di rumah" bla,,bla,..bla,..

Saya cukup turut bangga ketika teman saya bekerja di kantor dengan membawa serta anaknya sejak bayi hingga sekarang sudah balita. Membawa buah hatinya bekerja di lapangan, sungguh saya akui kehebatannya. Untuk yang demikian ini terus terang saya iri. Begitulah seorang yang layak mendaku sebagai ibu bekerja. Menerima segala konsekuensi dengan riang gembira. Ingin selalu bersama anaknya, maka diajaklah si anak yang lengkap dengan perangkat kesabaran ekstra.

Pendahulu menuntut kesetaraan, torang minta keistimewaan. Ini langkah besar kemunduran. Previlege dan afirmative action bukankah sama dengan memanjakan, dan itu bias yang konyol. Dengan uraian panjang ini maka mbok ya pliis,.. Supermom, nikmati anugerah kebebasanmu, ojo ngealamak. Doaku menyertaimu. Merdeka!!!

No comments:

Post a Comment