Friday, September 17, 2010

Tambangan oh... Tambangan

Sungai di Pulau Jawa memang tidak sebesar sungai di pulau lainnya, Kalimantan dan Sumatera misalnya. Sungai terbesar di Jawa timur adalah Sungai Brantas. Di sepanjang sungai ini banyak penambang pasir liar yang tidak mengindahkan bahay erosi.

Ada sebuah alat transportasi peninggalan nenek moyang yang hingga kini masih dioperasikan. Yaitu Tambangan, sebuah alat tarnsportasi yang digunakan untuk sekedar menyeberangi Sungai Brantas. Cukup dengan membayar sebesar Rp 1000 atau seikhlasnya kita sudah bisa menyeberang Sungai Brantas tanpa harus memutar jalan. Bisa dibayangkan jika Tambangan ini tidak ada, orang akan jauh memutar jalan untuk melintas di atas jembatan. Beruntung di dekat rumah teman saya ada kendaraan ini, sehingga saya berkesempatan menaikinya bolak-balik.

Sunday, September 5, 2010

Jayalah Jajanan Daerah

Makanan daerah kini semakin banyak diminati. Arus ekonomi global yang membuka lebar pintu masuk produk luar negeri, juga berismbas pada kuliner luar negeri. Maka masyarakat mengenal berbagai makanan luar negeri seperti Macaroni dan Pizza dari Itali, Sosis dari Jerman, Kebab dari Turki, dan berbagai makanan dari luar negeri yang lainnya. Semua makanan itu sangat digemari terutama oleh masyarkat perkotaan. Ada prestise tersendiri ketika mengkonsumsi makanan tersebut. Meski lidah dipaksakan untuk merasakan enak, nyatanya makanan tersebut semakin banyak diminati.

Tak mau kalah dengan makanan luar negeri, kini semakin banyk pula makanan khas daerah di Indonesia yang dipasarkan. Tidak perlu jauh-jauh ke Bandung untuk menikmati Batagor maupun Siomay, atau ke Maksaar untuk menikmati segarnya es Pisang Ijo.

Saturday, September 4, 2010

AVATAR


Penjaga Keseimbangan Alam

Kali ini pertempuran tentara AS dengan bangsa Na’vi yang tinggal di Pandora. Dalam sejarah, Amerika menjajah suku Indian yang takluk pada penyerangan para Yankee. Maka habislah suku yng menyembah kekuatan roh leluhur tersebut. Selebihnya, Amerika selalu tampil sebagai penolong kemerdekaan bagi Negara lain. Bagi Filipina, tentara Amerika pernah membantu mengusir Spanyol dari tanahnya. Dan bagi Indonesia, Amerika juga yang membantu mengusir Jepang pulang merutuki nasib negerinya diajtuhi bom atom. Politik tanam budi rupanya bagus diterapkan dengan tidak membiarkan tangan menjadi kotor. Kemerdekaan Negara Republik Indonesia tidaklah gratis. Bangsa ini harus rela menukarnya dengan gunung emas di Papua. Jayalah Freeport Indonesia di tengah primitifnya rakyat Papua.

Kembali ke perang di Pandora. Tentara bayaran dari AS dikerahkan untuk menjarah unobtanium yang bernilai ratusan juta dollar. Unobtanium, tersimpan di bawah pohon yang dihuni seluruh rakyat suku Omaticaya. Gambaran suku Omaticaya tidak jauh beda dengan ciri suku Indian. Mereka memuja roh leluhur, berkendara kuda, bersenjata panah dan pisau, dan melumuri tubuhnya membentuk lukisan. Ciri yang hampir sama dengan suku Indian. Satu lagi, mereka mengagumi Makto, nama sejenis burung besar yang disebut ikran, Makto sangat ditakuti. Dan suku Indian mengagumi burung elang sebagai symbol kekuatan dan penyatuan dengan alam. Ini ciri manusia primitif.

Masuklah Jake Sully dengan tubuh avatarnya ke dalam kehidupan Na’vi. Jake Sully, seorang mariner cacat kaki yang pemberani dan pantang menyerah. Awalnya dia bertugas mempelajari cara hidup dan kondisi geografis Omaticaya. Dalam waktu Jake mempelajari kehidupan suku yang memuja Eywa tersebut, dia justru jatuh cinta. Jatuh cinta pada hutan, pada peradaban, dan pada Niytiri anak sang kepala suku. Waktu tiga bulan untuk merelokasi warga suku untuk pergi meninggalkan rumah pohon tidak berhasil. Jake Sully sudah tahu bahwa mereka tidak akan pergi meninggalkan tanah airnya. Yang ada mereka akan berjuang mati-matian mempertahankan rumah pohon besar.

Waktu yang ditentukan untuk merelokasi telah tiba. Jake justru berpihak pada Omaticaya dan turut berperang melawan tentara AS. Pohon berhasil ditumbangkan, sebagian rakyat Omaticaya mati tertimpa pohon dan sebagian yang masih hidup pergi sebagai orang yang kalah. Eywa, sang Dewa, memihak pada keseimbangan alam. Kecanggihan militer AS lumpuh di hadapan serbuan hewan-hewan buas, pasukan berkuda, dan pasukan berkendara ikran. Tidak lama, manusia-manusia dari bumi itu pulang ke tempat asalnya di bumi. Menyingkir pergi tak boleh mengganggu lagi, jangan mengacaukan keseimbangan alam Pandora.

Di negeriku, masyarakat Papua berhadapan dengan penambanga emas dari Negara luar. Tanah ulayat digilas traktor diratakan menjadi jalan beraspal. Dilintasi oleh kendaraan industry. Sang kepala suku hanya melihat nanar kepada tanahnya. Terbayanglah kemarahan sang leluhur.

ANAK SEMUA BANGSA


Kesadaran Minke Tergugat, Tergurah, dan Tergugah


Roman kedua tetralogi Buru, Anak Semua Bangsa. Minke yang aktif menulis tentang kritik kemanusiaan dihadapkan pada tantangan baru. Tantangan sebagai Pribumi lulusan H.B.S yang hanya selalu menulis dalam bahasa Belanda. Sahabatnya, Jean Marais menantangnya untuk menulis dalam bahasa Melayu. Sahabatnya yang lain, Kommer, lebih keras mendorongnya turun ke bawah mencari serangkaian spirit lapangan dan kehidupan arus bawah Pribumi yang tak berdaya melawan kekuatan raksasa Eropa.

Dirangkai dengan banyak cerita perjalanan hidupnya bersama Nyai Ontosoroh, gurunya yang agung. Kematian istrinya, Annelies di Nederland, tidak membuat Minke terpuruk dan arut dalam kedukaan. Mamanya, sang Nyai yang mengajarkan bagaimana menghadapi kepedihan. Adalah melanjutkan hidup, berdamai dengan nasib dan mengutamakan hal kemanusiaan seadil-adilnya.

Thursday, September 2, 2010

Mereka dan Konversi LPG

Ini cerita tentang pengalaman saya sebagai petugas surveyor konversi minyak tanah ke LPG. Di tahun 2008 Pemerintah menelurkan kebijakan yang banyak menuai kritik. Kebijakan konversi minyak tanah ke LPG. Menurut pengamat regulasi, ini adalah kebijakan paling bodoh karena dipaksakan kepada masyarakat Indonesia. Demikian karena menurut mereka konversi ini tidak dibarengi dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dibentuklah sebuah tim besar di Kota Malang yang bertugas melakukan sosialisasi dan survey masyarakat. Aku dengar di beberapa daerah lain menolak konversi ini. Ada isu bukannya menolak, tapi menunda untuk digunakan kepentingan kampanye calon wali kota tertentu. Tim di Malang ini memang terkesan dipaksakan. Aku yang waktu itu sangat membutuhkan pekerjaan hanya tahu ada lowongan pekerjaan. Belakangan baru kutahu pekerjaan itu adalah sosialisasi penggunaan kompor LPG dari rumah ke rumah.