خُذُوا الْعِلْمَ قَبْلَ أَنْ يَذْهَبَ ” ، قَالُوا : وَكَيْفَ يَذْهَبُ الْعِلْمُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ، قَالَ:إِنَّ ذَهَابَ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ
“Ambillah (pelajarilah) ilmu sebelum ilmu pergi.” Sahabat bertanya: “Wahai Nabiyullah, bagaimana mungkin ilmu bisa pergi (hilang)?” Rasulullah Saw. menjawab: “Perginya ilmu adalah dengan perginya (wafatnya) orang-orang yang membawa ilmu (ulama).” (HR. ad-Darimi, ath-Thabarani no. 7831 dari Abu Umamah).
Adalah seorang ustadz bernama Hamzah. Ustadz kampung yang berasal dari desa Cangak'an, Kabupaten Banyuwangi. Daerah Cangak'an ini terkenal sebagai daerah santri di Banyuwangi. Konon, seorang Kyai bernama Kyai Wo, nggak tau nama lengkapnya, adalah salah seorang tokoh agama yang mbabat kampungku sehingga bernama Kauman. Bersama tokoh agama lain tentunya, termasuk Kyai Karim, yang mendirikan madrasah ibtida'iyah Miftahul Karim, tempatku sekolah dulu.
Aku pernah berguru mengaji pada Ustadz Hamzah saat masih kecil sekira kelas 4 MI, di sebuah bangunan kecil dekat masjid, orang kampung biasa menyebutnya guthek'an. Tetiba aku ingin menulis tentangnya, karena ternyata di tempat rantauku di Balikpapan ini, aku bertemu dengan teman masa kecil sang ustadz. Kaget dan sempat berlinang air mata orang tersebut. Saat kukabari bahwa Ustadz Hamzah sudah meninggal 1 tahun lalu, 7 hari setelah kematian Bapakku, lusa setelah malam memimpin tahlil 5 hari meninggal bapakku.




