Aku baru nonton di channel Fox Movies Desember 2014, sedanhkan film ini sudah tayang di bioskop pada bulan februari 2013 bertepatan dengan Hari Valentine, nggak terlalu lama telat nontonnya kok ☺. Film besutan sutradara Lasse Hollstorm yang diangkat dari novel karya Nicholas Sparks lumayan menguras air mata di ending ceritanya.
Berawal dengan adegan kaburnya seorang wanita bernama Irina, setelah menusuk suaminya, Irina lari dari kejaran polisi dan menumpang bus menuju Atlanta. Saat bus berhenti di kota kecil bernama Southport, Irina turun dan mampir di mini market milik Alex Wheatly. Irina merasa Southport adalah tempat persembunyian yang pas dari kejaran polisi, kota kecil sepi dengan lingkungan warga yang ramah. Maka Irina memutuskan tinggal di kota tersebut, dan membeli rumah tua dekat hutan tepi pantai. Irina cantik yang diperankan Julianne Hough kemudian menyamar dengan nama Katie Feldman.
Thursday, January 22, 2015
Thursday, December 12, 2013
Potret Tepi Pelabuhan Ikan
Akhir pekan sebagai hari libur tidak berlaku bagi para nelayan dan pemburu ikan di pelabuhan ikan. Sebagai bangsa yang konon mempunyai nenek moyang seorang pelaut, saya cukup bangga melihat keberanian dan kerja keras para nelayan. Berangkat melaut pada pagi hari dan pulang di sore hari, ini hanya gambaran kecil dari sedikit waktu yang digunakan nelayan. Sebagian besar dari nelayan itu bahkan melaut hingga berhari-hari. Berangkat dari pelabuhan A, esok sampai di pelabuhan B menjual hasil melaut, berangkat ke pelabuhan C menjual hasil melaut, begitu seterusnya hingga sampai di pelabuhan G, setelah seminggu atau lebih baru pulang.
Sore hari adalah saat kapal nelayan tambat labuh di pelabuhan untuk melelang ikan, sore hingga malam suasana tempat pelelangan ikan begitu ramai. Para pedagang ikan telah menunggu labuhnya kapal, mereka siap untuk membeli hasil tangkapan ikan. Di saat waktu menunggu datangnya kapal, seorang perempuan pembeli ikan sedang terlihat lelap tidur, merebahkan badan dan di sampingnya ember yang sedia menampung ikan. Lelahnya setelah seharian membereskan pekerjaan rumah tangga, memasak, mencuci, membersihkan, itu saja pekerjaan di rumah. Tapi itulah pekerjaan yang selalu dilakukan dengan cinta.
Sore hari adalah saat kapal nelayan tambat labuh di pelabuhan untuk melelang ikan, sore hingga malam suasana tempat pelelangan ikan begitu ramai. Para pedagang ikan telah menunggu labuhnya kapal, mereka siap untuk membeli hasil tangkapan ikan. Di saat waktu menunggu datangnya kapal, seorang perempuan pembeli ikan sedang terlihat lelap tidur, merebahkan badan dan di sampingnya ember yang sedia menampung ikan. Lelahnya setelah seharian membereskan pekerjaan rumah tangga, memasak, mencuci, membersihkan, itu saja pekerjaan di rumah. Tapi itulah pekerjaan yang selalu dilakukan dengan cinta.
![]() |
| Ibu pedagang ikan dalam lelap |
Saturday, July 21, 2012
Menjadi ibu baru tentu otomatis merubah segala pola hidup seorang perempuan. Tak terkecuali saya, baru 42 hari saya menjalani 'profesi' seorang ibu. Fase yang sangat dinantikan,tidak hanya selama 9 bulan mengandung dengan penantian. Melainkan,selama 28 tahun penantian, selama itu hanya untuk menantikan untuk menjadi seorang ibu.
Sunday, December 11, 2011
NominatorGoVlog- Mereka Berjuang Mencegah Infeksi HIV AIDS, Kita pun Juga
Dentum musik mengiring tari agogo, tarian lelaki yang disuguhkan bagi para gay pengunjung bar. Hanya mengenakan kancut, para penari itu menari di atas stage kecil. Sesekali suara sorak disertai tepuk tangan terdengar bersahutan. Bersamaan dengan hentak libido yang dihantar oleh indera mata. Teriak sorak membuat sang penari semakin bergerak lincah. Sesekali koreografi agogo itu tak jauh dari gambaran mereka saat berhubungan intim dengan pasangannya. Terletak di jalanan sepi sebuah kawasan yang disebut “Jalur Gaza” oleh masyarakat sekitarnya. Berada di jalan Abimanyu, Seminyak, Denpasar, Bali, lima bar kecil khusus bagi para gay berdiri genit. Kelima bar itu adalah Cosmo Club, Facebar, Balijoe, Bottoms up, dan Mixwell. Ramai pengunjungnya hanya lelaki gay dan waria. Kawasan itu bak surga bagi komunitas dengan orientasi seksual yang berbeda dari masyarakat kebanyakan. Itulah salah satu ikon naif dari sebuah kawasan wisata. Alih-alih menarik wisatawan dengan berbagai daya tariknya, maka masyarakat setempat harus waspada dengan resiko pengaruh buruknya.
Tak dipungkiri bila perilaku seksual para gay merupakan perilaku beresiko tinggi terinfeksi HIV. Kecuali, bila mereka setia terhadap pasangan yang sama-sama tidak terinfeksi HIV, atau menggunakan kondom saat berhubungan intim. Hal ini disadari betul sehingga menjadi perhatian penting bagi komunitas Gaya Dewata, sebuah LSM khusus para gay di Denpasar. Untuk itu, Gaya Dewata bekerja sama dengan pengelola bar melakukan kampanye informasi dan edukasi mengenai HIV AIDS setiap hari rabu malam. Kampanye informasi dan edukasi itu dilakukan salah satu dengan adanya kesepakatan bahwa pada hari rabu para pelayan bar diharuskan mengenakan dress code bertema “be aware HIV AIDS” dengan mencantumkan tulisan maupun simbol AIDS ribbon pada kostumnya. Selain itu, aktivis relawan Gaya Dewata juga membagikan kondom gratis kepada pengunjung maupun pekerja seks yang sedang beroperasi di sekitar bar.
Friday, November 18, 2011
Kita Semua 'Buddies' Bagi ODHA
AIDS adalah masalah kesehatan, bukan masalah moral yang tidak sewajarnya berkaitan dengan stigma. Bahwa AIDS bukanlah penyakit kelamin, kita semua tahu itu. Penularannya tidak selalu dengan berhubungan intim. Virus HIV hanya bisa menular dengan cara pertukaran cairan tubuh yaitu cairan darah, cairan vagina atau sperma, dan air susu ibu. Dan virus HIV tidak bisa bertahan hidup di luar tubuh manusia. Biasanya, virus akan mati dalam beberapa menit setelah berada di luar tubuh. Bila virus itu di luar tubuh, maka ini merupakan lingkungan yang sangat dibencinya dan virus itu tidak dapat bertahan hidup, kecuali bila virus itu masuk ke dalam tubuh orang lain dalam waktu cepat.
Berada dalam satu ruangan bersama, menggunakan kamar mandi yang sama, tidur bersama, maupun berpelukan tidak bisa menularkan virus HIV. Lantas, mengapa kita masih menjauhi ODHA? Terlebih mengaitkannya dengan masalah moral hanya karena penularannya yang erat kaitan dengan gaya hidup bebas. Toh, mengidap AIDS tidak lantas membuat ODHA berbuat kriminal maupun merugikan.
Subscribe to:
Posts (Atom)

